Filsafat Administrasi
Administrasi, yang merupakan hasil pemikiran dan penalaran
manusia serta dihasilakan untuk menciptakan keteraturan menuju terwujudnya
tujuan bersama, adalah salah satu ilmu yang banyak diminati dan dipelajari oleh
masyarakat umum. Melalui kacamata filsafat, diharapkan masyarakat mengetahui
esensi dasar dari ilmu administrasi tersebut
Didalam buku ini, dibahas administrai dari sudut pandang
filsafat.Dimulai dari pembahasan hakikat ilmu administrasi sampai dengan
pemaknaan administrasi secara epistimologi, ontologi, dan aksiologi, yang
dijelasakn dengan bahasa sederhana dan mudah dimengerti. Disertai persepsi
organisasi, memberikan gambaran nyata kepada pembaca tentang implementasi
administrasi di dunia nyata
Melaui penggunaan materi-materi diatas sebagai kekuatan,
menjadikan buku ini berbeda dari buku-buku lain sejenis yang ada di pasaran.
Lebih dari itu, buku ini diharapkan akan bermanfaat lebih bagi pembaca.
Tips-Tips Motivasi by Reza Wahyu
Tehnik Motivasi Douglas McGregor: Teori X, Y, dan Z
by @rezawismail
Di dunia ini tidak
ada yang bisa menggantikan keutamaan dari kegigihan; bukan bakat karena sudah
banyak orang berbakat yang tidak sukses, bukan pula kejeniusan karena orang
jenius yang gagal sudah biasa, juga bukan pendidikan karena kini pengangguran
yang berpendidikan sudah menjadi peristiwa yang umum. Kegigihan dan kesungguhan
hati sungguh tak tergantikan. -Calvin Coolidge
Douglas McGregor adalah seorang psikolog sosial dari Amerika
yang mengemukakan teori XY dalam bidang motivasi yang menjadi prinsip dasar
dalam mengembangkan pengelolaan SDM (sumber daya manusia) modern, menentukan
pola komunikasi organisasi, menyusun panduan manajemen perilaku, mengelola
interaksi sosial karyawan dan dalam menciptakan budaya perusahaan.
Teori X dan Teori Y menjabarkan dua model motivasi yang
saling berkebalikan, sedangkan teori Z adalah pengembangan dari teori hirarki
motivasi oleh Abraham Maslow dan ilmu manajemen oleh Dr. W. Edwards Demming.
Teori Z ini dikembangkan oleh Dr. William Ouchi.
Ketiga teori ini penting diketahui oleh bagian HRD (human
resources management) di setiap perusahaan untuk mengoptimalkan pengelolaan
motivasi SDM atau pola komunikasi dari manajemen kepada para karyawannya.
Ketiga teori ini menciptakan kerangka untuk paradigma
berpikir para manajer dalam mempersepsikan bagaimana para karyawan berperilaku
dan bagaimana cara meningkatkan motivasi karyawan yang mendorong perilaku
tersebut.
Perspektif yang diperoleh dari penerapan teori-teori ini
akan memberikan pemahaman yang secara signifikan akan mempengaruhi pendekatan
manajemen perusahaan kepada para karyawannya secara lebih efektif.
Aplikasi dari teori XYZ akan menentukan gaya kepemimpinan
yang seperti apa yang cocok dengan kondisi mental karyawan. Indikasi dari
kesesuaian cara pemimpin dalam memotivasi karyawannya akan terlihat sebagai
peningkatan kinerja dan produktivitas.
Maka dari itu, teori XY dan Z menjadi pondasi penting dalam
menentukan tehnik motivasi yang tepat bagi para karyawan.
Teori X
McGregor memaparkan teori X dengan asumsi awal bahwa
karyawan itu secara alamiah bersifat malas atau tidak menyukai pekerjaannya dan
harus dimotivasi dengan gaya kepemimpinan yang otoriter.
Manajemen harus terus aktif dan otoritatif dalam
mengendalikan karyawan. Asumsi selain karyawan tidak suka bekerja adalah
karyawan tidak punya ambisi sehingga ingin selalu menghindari tanggung jawab
maka dari itu perlu diarahkan, dipaksa, bahkan diancam dengan hukuman, dan
dikontrol dalam pengawasan yang ketat.
Biasanya teori X ini kurang efektif dalam praktek manajemen
modern, namun hirarki kewenangan yang tersentralisasi tak bisa dihindari jika
perusahaannya memiliki karyawan yang sangat banyak dengan skala produksi yang
besar dan pekerjaan yang berulang-ulang tanpa keahlian tinggi seperti di
pabrik-pabrik.
Tapi teori X ini tetap harus digunakan khususnya pada
beberapa jenis karyawan yang memiliki karakter yang lebih termotivasi secara
efektif dan memberikan hasil kinerja yang lebih baik dengan gaya kepemimpinan
yang otoritatif.
Para pemimpin dan manajer perusahaan yang ingin
mempraktekkan teori X harus menyatakan dengan tegas aturan, arahan, ultimatum
dengan pemberian imbalan dan hukuman untuk para karyawannya. Teori ini
mengutamakan kepatuhan sebagai faktor pendorong kinerja karyawan.
Teori X berfokus pada pengawasan dalam pelaksanaan prosedur
standar kerja, pengendalian aktivitas, delegasi tugas dan perintah dengan
deadline serta memastikan hasil akhir yang diberikan karyawan harus sesuai
dengan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.
Teori Y
McGregor menyatakan dalam teori Y, para karyawan diasumsikan
sebagai orang yang berambisi, mau menerima tanggung jawab bahkan mencari
wewenang agar bisa bekerja secara optimal dengan potensi diri yang dimiliki.
Para karyawan dianggap secara alamiah menikmati pekerjaan serta termotivasi
sendiri berprestasi.
Gaya kepemimpinan dalam teori Y adalah manajemen
parsitipatif yang mengundang diskusi dan keterlibatan karyawan dalam membuat
keputusan dan memberikan peluang untuk mengembangkan keahlian serta karir sang
karyawan atau promosi.
Kreativitas, intelektualitas, otonomi, dan keahlian yang
dimiliki karyawan diapresiasi oleh manajemen yang menggunakan teori Y dalam
tehnik motivasinya. Walaupun begitu, teori Y tetap memanfaatkan penilaian untuk
remunerasi, insentif, dan pemberian sanksi jika diperlukan.
Teori Y mendorong perluasan wawasan karyawan dan perbaikan
kualitas SDM yang berkelanjutan. Penerapan teori Y terbukti lebih menguntungkan
daripada teori X khususnya dalam perusahaan-perusahaan yang membutuhkan para
profesional berkeahlian tinggi.
Pengembangan teori Y ini terus diupayakan oleh para peneliti
dan pakar manajemen di masa kini. Misalnya seperti teori determinasi diri dan
motivasi intrinsik oleh Deci dan Ryan, teori kebutuhan McClelland, teori
motivasi internal oleh Profesor Reiss, serta teori Z yang kesemuanya memiliki
fokus kepada kekuatan semangat bekerja dari dalam diri manusia.
Teori Z
Teori Z ini bukanlah ide dari McGregor dan merupakan
pengembangan teori manajemen yang meneliti kesuksesan perusahaan-perusahaan di
Jepang yang ditulis oleh William Ouchi seorang profesor terkemuka di bidang
manajemen dan bisnis.
Namun teori Z mengkombinasikan teori XY dengan gaya
kepemimpinan bisnis ala Jepang dan mengharapkan karyawan selalu loyal atau
memiliki kesetiaan yang tinggi kepada organisasi. Teori Z bisa juga dibilang
sebagai penyempurnaan dari teori Y dalam memotivasi karyawan.
Negara Jepang terkenal sebagai negara yang produktivitasnya
tergolong tinggi di dunia, dengan perekonomian yang sangat kuat. Kesuksesan
banyak perusahan di Jepang dalam mengelola para pekerja menjadi dasar dalam
menyusun teori Z untuk memotivasi para karyawan di sebuah perusahaan untuk
lebih produktif dan juga berkomitmen tinggi.
Teori Z ini memandang kebutuhan karyawan sebagai faktor
pendorong motivasi kerjanya tidak hanya sebatas pada kebutuhan fisik dan
keamanan/kepastian saja. Kepedulian perusahaan terhadap kesejahteraan dan
pemenuhan kebutuhan mental-emosional-sosial-spiritual karyawan sangat
diperhatikan dalam mengaplikasikan teori Z ini.
Sesuai struktur yang lebih tinggi dalam hirarki kebutuhan
Maslow, teori Z memperhatikan pemenuhan kebutuhan karyawan untuk
bersosialisasi, berkelompok, mempererat hubungan dengan sesama rekan kerja dan
perusahaan, serta menguatkan kepercayaan diri yang akhirnya mendukung aktualisasi
diri sang karyawan.
Menurut Ouchi, penerapan dari teori Z dalam perusahaan akan
memberikan stabilitas SDM (para karyawannya jarang yang berhenti, pindah kerja,
atau berulah minta dipecat), meningkatkan produktivitas dengan menaikkan level
kepuasan kerja dan moral dari para karyawan.
Karyawan menjadi sangat setia dan termotivasi untuk
memberikan yang terbaik bagi perusahaannya. Kedisiplinan dan kerja keras
menjadi nilai-nilai yang membudaya di dalam perusahaan selama manajemen
dipercaya untuk selalu mendukung dan memberikan kesejahteraan.
Teori Z juga meningkatkan kompetensi karyawan dengan rotasi
pekerjaan dan pelatihan-pelatihan yang intensif. Hal ini dilakukan agar
karyawan yang promosi menjadi pemimpin memiliki pengetahuan yang menyeluruh
terhadap semua operasional perusahaan dan akan mampu menggunakan teori Z untuk
memotivasi semua bawahannya khususnya para karyawan yang masih baru.
Kesimpulan
Memahami karakteristik dari para karyawan dan sifat
pekerjaannya, serta jenis bisnis yang dijalankan oleh perusahaan akan
memberikan asumsi-asumsi sebagai dasar keputusan untuk menggunakan teori
motivasi yang tepat-guna. Khususnya jika ingin menggunakan motivasi intriksik
untuk para karyawan.
Pengamatan yang baik dan observasi yang teliti perlu
dilakukan jika manajemen ingin berhasil dalam memanfaatkan teori mana yang
sesuai dengan tantangan yang ada dalam pengelolaan SDM. Penentuan gaya
kepemimpinan yang cocok dengan penerapan masing-masing teori harus diputuskan
jika perusahaan ingin memperoleh keuntungan yang maksimal.
TEORI X, Y, Z
Orang yang memiliki memiliki sifat buruk ditumbuhkan teori
X, dan sehubungan dengan adaya orang yang memiliki sifat baik diciptakan teori
Y. Teori ini diciptakan oleh Douglas Mc Gregor.
Menurut Anthony G.
Atos dan Robert E. Coffey,
“Theory X”:
1. Kebanyakan
orang secara alami menentang kerja dan bersifat malas. Oleh karena itu, mereka harus diberi motivasi
dengan perangsang dari luar.
2. Tujuan
kebanyakan orang bertentangan dengan tujuan organisasi, oleh karena itu orang
harus diarahkan, diberi motivasi, dipaksa, dikontrol agar supaya
mempertanggungkan kesamaan mereka dengan kebutuhan organisasi.
3. Kebanyakan
orang didorang terutama oleh perangsang-perangsang yang bersifat ekonomis.
Karena sumber ekonomi organisasi ada di
bawah pengontrolan para mmenejer, para menejer memiliki alat kekuasaan untuk
mendorong dan mengontrol para pekerja, yang harus menerima secara pasif nasib
mereka jika mereka mengharapkan untuk mencapai imbalan-imbalan ekonomi.
4. Kebanyakan
orang mencari kemananan dan ingin menghindarkan tanggung jawab, oleh karena itu
mereka rela menerima pengarahan dari para manajer.
5. Perilaku
didasarkan perasaan adalah irasional, dan karena banyak orang berperilaku
menguntungkan pada perasaan mereka, mereka tidak dapat dipercaya untuk
mengarahkan perilaku mereka sendiri. Tetapi mereka orang mampu mengontrol
perasaan mereka dan berperilaku rasional. Kerana organisasi harus
mempertanggung jawabkan bahwa perasaan tidak bercampur dengan rasio dan
kebanyakan hal-hal yang berkenaan dengan ekonomi, perilaku yang didasarkan pada
perasaan mereka sebaik pikiran mereka.
Sumber:
Sutarto, Dasar-dasaar Kepemimpinan Administrasi, Gajah Mada University Press, 1986, h.98-100.
“Theory Y”:
1. Kebanyakan
orang senang akan bermacam-macam pekerjaan dan bersedia secara sukarela
berupaya dengan kekuatan mental dan fisik dalam melakukan pekerjaan.
2. Kebanyakan
orang mempunyai alasan-alasan lain dari pada sekedar alasan uang di dalam
bekerja, dan alasan-alasan ini pada akhirnya sama penting dengan alas an uang
bagi mereka.
3. Kebanyakan
orang mampu mengarahkan dan mengontrol
pekerjaan mereka sendiri dalam mencapai tujuan organisasi yang mereka
amanatkan.
4. Kebanyakan
orang bersedia menerima dan bahkan merusaha mencari tanggung jawab di bawah
syarat-syarat yang pasti.
5. Kebanyakan
orang lebih mampu menunjukkan kemampuan kreativitasnya dan kecerdasannya dari
pada mereka bekerja dalam ikatan organisasi.
6. Kebanyakan
orang ingin, mencari, dan merasakan persahabatan, perhubungan saling membantu
dengan orang lain.
Sumber:
Sutarto, Dasar-dasaar Kepemimpinan Administrasi, Gajah Mada University Press, 1986, h.100-101.
“Teori Z”
Dipopulerkan oleh Lyndall F. Urwick, intinya:
Bahwa apabila semua dalam kondisi kerja yang baik, maka
pengarahan yang dilakukan sebaiknya mengambil segi baik dari teori X dan teori
Y.
Pada suatu saat seorang pemimpin memang orang harus
menggunakan cara halus, hanya sedikit mengontrol, memerintah dengan sikap
permintaan, saran ataupun sukarela, lebih bersifat menanyakan dari pada
menegur, pada lain kesempatan seorang pemimpin harus berani bertindak tegas,
melakukan control secara ketat, memberi
perintah tegas, menyalahkan, dan bahkan bila terpaksa harus berani
menghukum sesuai dengan kesalahan yang dibuat oleh bawahannya.
Baik secara halus maupun secara tegas kedua-duanya dilandasi
suatu harapan bahwa tujuan organisasi dapat tercapai dengan baik.
Sumber: Robert
Fulmer, The New Management, McMillan Publi, McMillan Publishing Co, Inc, 1974,
p. 355.
Sutarto, Dasar-dasaar Kepemimpinan Administrasi, Gajah Mada University Press, 1986, h. 102-103.